Jumat, 19 September 2014

Manajemen Administrasi Perkantoran


Administrasi Perkantoran

Arthur Grager, Administrasi adalah fungsi tata penyelenggaraan terhadap komunikasi dan pelayanan warkat suatu organisasi.
George Terry, Administrasi adalah perencanaan, pengendalian, dan pengorganisasian pekerjaan perkantoran, serta penggerakan mereka yang melaksanakannya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Sondang P. Siagian, Administrasi adalah keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Administrasi dalam arti sempit merupakan kegiatan yang meliputi: catat-mencatat, surat-menyurat, ketik-mengetik, agenda, atau dapat dikatakan juga sebagai segala yang bersifat teknis ketatausahaan. Sementara administrasi dalam arti luas adalah seluruh proses kerja sama antara dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan dengan memanfaatkan sarana prasarana tertentu secara berdaya guna dan berhasil guna. Oleh karena itu, dalam hal ini administrasi dapat disimpulkan sebagai usaha dan kegiatan yang berkenaan dengan penyelenggaraan kebijaksanaan untuk mencapai suatu tujuan.
Dalam fase perkembangannya, sejarah mencatat bahwa gereja katolik roma mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan teori administrasi dan manajemen. Terdapat tiga kelompok sarjana berbeda namun memiliki pandangan yang secara garis besarnya sama, yakni, Kelompok Kameralisten di Jerman dan Austria, Kelompok Merkantilizen di Inggris, dan Kelompok Fisiokraten di Perancis. Dan pada fase perkembangannya di jaman modern adalah ditandai dengan lahirnya Gerakan Manajemen Ilmiah yang dipelopori oleh Frederick W. Taylor pada tahun 1886 di Amerika Serikat.

Manajemen administrasi perkantoran

Manajemen administrasi perkantoran merupakan bagian dari manajemen yang memberikan informasi layanan bidang administrasi yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif dan memberi dampak kelancaran pada bidang lainnya. George R. Terry mengatakan, Manajemen perkantoran adalah perencanaan, pengendalian dan pengorganisasian pekerjaan perkantoran, serta penggerakan mereka yang melaksanakan agar mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Sementara W.H. Evans mengatakan, Administrasi perkantoran merupakan fungsi yang menyangkut manajemen dan pengarahan semua tahap operasi perusahaan mengenai pengolahan bahan keterangan, komunikasi, dan ingatan organisasi.
Dalam manajemen perkantoran terdapat berbagai fungsi yang meliputi rangkaian aktivitas, di antaranya: manajemen dan pengarahan, tata laksana/penyelenggaraan, pelaksana secara efisien, manajemen, pengendalian, pengarahan dan pengawasan.
Hal ini dilakukan dengan tujuan: (1) Memberikan semua keterangan yang lengkap dan diperlukan siapa saja, kapan dan di mana hal itu diperlukan untuk pelaksanaan perusahaan secara efisien, (2) Memberikan catatan dan laporan yang cukup dengan biaya serendah-rendahnya, (3) Membantu perusahaan memelihara persaingan, (4) Memberikan pekerjaan ketatausahaan yang cermat, dan (5) Membuat catatan dengan biaya minimal.

Dengan demikian, pada pokoknya manajemen perkantoran merupakan rangkaian aktivitas merencanakan, mengorganisasi (mengatur dan menyusun), mengarahkan (memberikan arah dan petunjuk), mengawasi dan mengendalikan (melakukan kontrol) sampai menyelenggarakan secara tertib sesuai tujuan mengenai sesuatu hal atau kegiatan. Hal atau sasaran yang terkena oleh rangkaian kegiatan itu pada umumnya ialah pekerjaan perkantoran (office work).

Human Resource training

Human Resource training is once a marketing network training providers tbsp who has worked with many companies Human Resource consultant and Human Resource training institutes which provide Human Resource training information for the purposes of development of individuals and companies.

The objectives of the training:
  • Increasing knowledge of the culture and the employees over outside competitors,
  • Assist employees who have the skills to work with new technologies,
  • Helping employees to understand how to work effectively in teams to produce quality products and services,
  • Ensuring that corporate culture emphasizes on innovation, creativity and learning,
  • Ensure safety by providing new ways for employees to contribute to the company when they change jobs and interests or expertise when they become absolute,
  • Preparing employees to be able to accept and work more effectively with each other, especially with minorities and women.

Kunjungi situs Pelatihan SDM

Rabu, 13 Juni 2012

Sadar Lingkungan


Pengelolaan Sampah Untuk Kehidupan!!!

Wacana pemanasan global (global warming) adalah tema yang selalu saja hangat diperbincangkan, baik oleh pemerintah, peneliti maupun badan organisasi di tingkat internasional maupun nasional/lokal. Betapa tidak, terjadinya pemanasan global dapat berakibat negatif bagi keberlangsungan makhluk hidup secara umum di permukaan bumi.  Dampak negatif tersebut di antaranya berupa terjadinya perubahan iklim yang tidak stabil, suhu yang meningkat, kenaikan permukaan air laut, dan mencairnya es di kutub. Oleh sebab itu, berbagai upaya terus dilakukan guna mencegah terjadinya pemanasan global yang berkelanjutan.

Terjadinya pemanasan global itu sendiri disebabkan oleh semakin meningkatnya jumlah gas rumah kaca pada atmosfer bumi. Ironisnya, manusia sendirilah yang menjadi aktor utama penyebab meningkatnya emisi gas rumah kaca. Gas rumah kaca tersebut, semisal CH4 (gas metan) dan CO2  (karbondioksida), terutama dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia, utamanya kegiatan yang menggunakan pembakaran bahan bakar fosil, seperti penggunaan kendaraan bermotor, pembakaran bahan bakar minyak dan batubara di industri.

Tidak hanya itu, produksi gas rumah kaca yang semakin meningkat tersebut juga disebabkan oleh tidak tertanganinya pengelolaan sampah dengan baik. Masih banyak negara-negara, khususnya negara tertinggal maupun berkembang, yang menggunakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan sistem pembuangan terbuka (open dumping) atau sekedar menimbun sampah di daerah terbuka tanpa proses apapun. Tumpukan sampah pada ruang terbuka tersebut kemudian menyebabkan sampah-sampah organik yang tertimbun mengalami dekomposisi secara anaerobik  dan menghasilkan gas CH4 atau gas metan.

Keberadaan lapisan gas rumah kaca pada atmosfer menyebabkan terperangkapnya panas matahari.  Secara alamiah panas sinar matahari yang masuk ke bumi, sebagian diserap oleh permukaan bumi dan sebagian lagi akan dipantulkan kembali keluar angkasa melalui atmosfer. Dengan terperangkapnya sebagian panas matahari oleh gas rumah kaca tersebut kemudian menyebabkan suhu di permukaan bumi menjadi hangat. Dan meningkatnya emisi gas rumah kaca pada atmosfer pada akhirnya juga meningkatkan pemanasan suhu di bumi.  Peristiwa terperangkapnya panas matahari di permukaan bumi inilah yang dikenal dengan istilah efek rumah kaca (ERK).

Hal ini justru semakin diperparah oleh kesadaran akan pelestarian lingkungan yang tidak dimiliki oleh setiap personal. Salah satu contoh, dalam kasus di Indonesia sendiri, tidaklah sulit untuk menemukan tumpukan sampah (organik dan non organik) yang dibuang secara sembarangan, baik di jalanan maupun di selokan. Prilaku yang demikian ini bisa jadi disebabkan oleh dua hal, yaitu pertama,  masyarakat kurang begitu memahami dampak negatif dari prilaku tidak mengelola pembuangan sampah dengan baik (membuang sampah sembarangan), kedua, memang karena tidak adanya kesadaran pada sebagian besar masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungannya.

Membangun Masyarakat Sadar Lingkungan

Berangkat dari kenyataan di atas, rasanya diperlukan adanya suatu “terapi” yang berkesinambungan sebagai upaya penyadaran terhadap masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Terapi berkesinambungan tersebut dimaksudkan sebagai proses penyadaran bertahap dan berkelanjutan sebab untuk membangun suatu pola kebiasaan tidak dapat tercipta begitu saja dalam waktu singkat. Dalam hal ini, peranan media dalam menyuarakan gerakan peduli lingkungan haruslah difungsikan secara maksimal karena lebih mudah diakses oleh masyarakat luas daripada bentuk sosialisai yang dilakukan oleh lembaga atau organisasi tertentu.

Tidak hanya itu, “terapi” tersebut kemudian haruslah dilanjutkan dengan aksi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sebab, kesadaran tanpa adanya aksi nyata sama saja omong kosong. Suatu aksi nyata yang didukung peran aktif masyarakat dengan sendirinya akan membangun mental masyarakat yang sadar lingkungan. Dan salah satu bentuk aksi nyata tersebut dapat berupa pengelolaan terhadap sampah.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan konsep 3 R (Reduse, Reuse dan Recycle). Karena dengan menerapkan konsep 3R tersebut setidaknya dapat mengontrol produksi sampah. Reduce yaitu mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah, misalnya pada saat berbelanja kita membawa kantong atau keranjang dari rumah, mengurangi kemasan yang tidak perlu, atau menggunakan kemasan yang dapat di daur ulang. Reuse (guna ulang) yaitu kegiatan penggunaan kembali sampah yang masih dapat digunakan baik untuk fungsi yang sama ataupun fungsi yang lain, misalnya botol bekas minuman dirubah fungsi menjadi tempat minyak goreng, ban bekas dimodifikasi menjadi kursi, dan pot bunga. Recycle (mendaur ulang), yaitu mengolah sampah menjadi produk baru, misalnya sampah kertas diolag menjadi kertas daur ulang/kertas seni/campuran pabrik kertas, sampah plastik di daur ulang menjadi biji plastik untuk bahan timba dan lainnya, sampah organik diolah menjadi pupuk kompos.

Dengan adanya kontrol dan pengelolaan sampah secara benar –juga bentuk cita-cita pelestarian lingkungan lainnya, maka masyarakat telah berperan serta dalam mengontrol emisi gas rumah kaca yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global. Perduli terhadap pemanasan global berarti perduli terhadap lingkungan, perduli terhadap lingkungan berarti perduli terhadap kemanusiaan, dan perduli terhadap kemanusiaan berarti perduli terhadap keberlangsungan hidup seluruh makhluk di permukaan bumi.

Selasa, 05 Juni 2012

Mengenal Buku

Menggagas Moralitas dalam Sebuah Ramalan


Judul                    : Ramalan-Ramalan Edan Ronggo Warsito
Penulis                  : Otto Sukanto Cr
Penerbit                : Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Cetakan                : Pertama, September 2006.
Tebal                    : xii-169 Halaman

Ramalan, istilah tersebut sangatlah identik dengan hal-hal yang berbau mistik ataupun metafisik.. Sejak dahulu ramalan sudah sangat populer, bahkan hilngga sekarang ramalan masih sangat integral dalam kehidupan masyarakat. Ramalan banyak sekali ditulis di media massa, semisal majalah, koran, televisi dan lain-lain. Ramalan begitu bertuah bagi masyarakat indonesia khususnya masyarakat jawa. Ramalan semakin populer ketika Indonesia diguncang dengan maraknya perjudian (judi togel). Masyarakat mencari pelbagai ramalan melalui orang yang dianggap bisa menerawang hal-hal yang sudah terjadi di masa lampau dan hal-hal yang akan terjadi di masa depan (peramal) atau dukun. Masyarakat yakin bahwa ramalan bersifat “selalu benar”. Padahal kita tentunya sudah jelas-jelas tahu bahwa tidak ada yang lebih mengetahui dan tidak ada yang lebih benar selain Tuhan yang maha esa. Namun, lewat karyanya yang berjudul Ramalan-Ramalan Edan Ronggo Warsito, Otto Sukanto Cr menuturkan bahwa terdapat “visi moralitas” dalam sebuah ramalan karya dari Ranggawarita yang disebut dengan serat jangka .

Ranggawarsita adalah seorang pujangga besar Kraton Surakarta. Sebagai seorang pujangga, Raggawarsita tentunya mahir dalam hal sastra, menguasai bahasa kesusastraan, dan pandai mengolah kata-kata. Diterangkan pula dalam manuskrip yang disusun oleh Padmawarsita bahwa seorang pujangga haruslah memiliki kemampuan nawungkrida dan sambegena. Sambegena adalah kuat ingatannya, sedangkan nawungkrida adalah mengetahui segala rahasia segala sesuatu dengan ketajaman pandangan mata batinnya. Dalam manuskrip ini, Ronggowarsito dinilai sebagai seorang pujangga. Karya-karya yang sangat indah dari pujangga besar Kraton Surakarta ini sangatlah terkenal. Sehingga, ia sering sekali dikutip oleh para sastrawan dan para pemimpin republik ini baik yang berasal dari Jawa maupun non Jawa.

Menurut Otto Sukanto, agaknya generasi bangsa ini sudah melupakan pesan-pesan, amanat, dan nilai-nilai sosial budaya yang telah diamanatkan oleh leluhur bangsa ini.  Generasai bangsa ini seringkali lebih mengenal tokoh-tokoh Barat dan Yunani berikut karya-karyanya daripada tokoh bangsanya sendiri. Itulah sebabnya, melalui usaha pengkajian terhadap karya-karya leluhur bangsa sendiri, dimaksudkan untuk mendekatkan jarak generasi bangsa ini untuk lebih mengenal dan lebih memahami warisan leluhur yang dimiliki dan semakin memperkaya khazanah wacana intelektual kita, sehingga dapat menimba “telaga sejuk” dari nilai-nilai yang ditawarkan. 

Buku yang berjudul Ramalan-Ramalan Edan Ronggo Warsito ini adalah salah satu buku yang mengkaji karya dari Ranggawarsita. Buku ini mengkaji empat karya Ranggawarsita yang disebut Serat Jangka (serat yang berisi ramalan-ramalan ranggawarsita). Yakni; Serat Jaka Lodhang, Serat Kalatidha, Sabdatama, dan Sabdajati. Pembahasan secara filosofis pernah dilakukan oleh Karkana Partakusuma terhadap salah satu Serat Jangka Ranggawarsita. Menurutnya Serat Kalatidha merupakan buku filsafat yang di dalamnya mengandung ajaran-ajaran moral. 

Lewat karyanya ini Otto Sukanto menuturkan bahwa di dalam Serat Jangka Ranggawarsita tersebut mengandung makna esensial “visi moralitas” yang digagas oleh Ranggawarsita. Salah satu ajaran moral dalam Serat Jangka Ranggawarsita adalah ajaran moral sosial. Ini menunjukkan bahwa leluhur bangsa ini mewariskan suatu ajaran moral dan nilai kepada generasi penerusnya. Tetapi generasi bangsa ini seringkali tidak mengetahuinya.
Manusia sebagai makhluk individu tentunya mempunyai perasaan, nafsu, kebutuhan, kepentingan, harapan, dan kehendak. Akan tetapi, semua itu tidak akan lepas dari perasaan, nafsu, kebutuhan, kepentingan, harapan, dan kehendak orang lain atau kelompok sosialnya. Manusia berkembang berkat adanya orang lain atau kelompok sosial yang menjadi habitat di mana ia hidup dan berkiprah dalam kehidupannya. Manusia hanya mungkin dapat mempertahankan dirinya jika ia hidup dan bergaul dengan sesamanya. Dengan kata lain manusia sangatlah tergantung kepada orang lain, bahkan manusia membutuhkan orang lain untuk mempertahankan hidupnya.     

Pada hakekatnya manusia mempunyai perasaan untuk menjaga dan mengamankan kepentingan masyarakat dalam kegiatan sosialnya. Sebagai makhluk sosial, tentunya manusia selalu hidup dengan dan dalam masyarakat. Dalam hubungan bermasyarakat, terjalin huungan hak dan kewajban antara individu dan masyarakat secara timbal balik. Sebagaimana tertuang  di dalam Serat Sabdatama, terdapat ajaran sosial untuk melindungi sesama makhluk hidup. Sehingga dengan melindungi sesama makhluk hidup ini  dapat mengalahkan sifat angkara dan membuang perbuatan yang salah.

Otto Sukanto juga menuturkan bahwa di dalam serat jangka juga terdapat ajaran eling lan waspada. Dalam mengahadapi situasi di zaman edan (zaman yang serba menyulitkan) ini, manusia dihadapkan pada dua pilihan yang krusial bak buah simalakama, dimakan salah tidak dimakan juga salah. Jika ikut-ikutan edan, biasanya (hati nurani manusia yang sadar) tidak akan tahan. Sedangkan apbila tidak ikut-ikutan edan tentunya ia tidak akan mendapatkan bagian yang pada akhirnya akan membuatnya sengsara. Dalam menanggapi hal ini akhirnya Ranggawarsita seperti digambarkannya dalam Serat Kalatidha yang akhirya mejadi salah satu syairnya yang paling terkenal mengajarkan kepada manusia agar selalu eling lan waspada (ingat, sadar, sabar, dan selalu berada dalam kewaspadaan). 

Ajaran tentang eling lan waspada pada kenyataannya memang terbukti bagi siapapun, terutama dalam menghadapi cobaan hidup yang terasa sangat berat. Sebab, suatu cobaan dalam hidup ini bukan hanya suatu hal yang menyebabkan penderitaan. Tetapi, hal-hal yang mengiurkan dan menggoyahkan iman, seperti tawaran harta atau pangkat duniawi yang serba gemerlapan juga bisa dikatakan sebagai suatu cobaan yang berat. Tentunya, hati yang tanpa dibarengi dengan sikap yang selalu sadar, ingat, dan waspada, pastilah akan ikut terjerumus ke dalam jurang kehinaan dan kerendahan martabat. 

Lebih lanjut, karya dari Otto Sukanto Cr ini berusaha untuk menyingkap dan memaknai lebih banyak lagi misteri dan pesan-pesan moral yang digagas oleh R. Ng. Ranggawwarsita yang berada dibalik makna tersembunyi dari karyanya yang disebut dengan serat jangka atau ramalan. Karya ranggawarsita tersebut sangatlah menarik untuk dikaji karena pesan-pesan yang terdapat dalam ramalannya tersebut dibungkus dan disamarkan dalam kalimat yang sangat indah.
      




Senin, 28 Mei 2012

Kisah Bermakna...

 ORANG TERAKHIR MASUK SURGA


Sesudah persoalan neraka dan surga dengan para penghuninya, seorang lelaki berada di antara neraka dan surga dengan keadaan yang tetap menghadap ke neraka,
“Ya Tuhan, balikkanlah aku dari menghadap neraka. Sengatan neraka telah membinasakan aku dan gejolak neraka telah membakar aku” pintanya,
“adakah kamu hendak meminta lain, bila pintamu itu dikabulkan?”
“Tidak, Tuhan, demi keluhuran-Mu” jawab lelaki itu yang juga ditambahkan sumpah dan janji tidak berharap selain dihadapkan ke surga.

Tuhan mengabulkan; membalikkan wajahnya dari menghadap neraka menjadi menghadap surga. Dipandangnya dari kejauhan pemandangan surga yang serba maha indah menggiurkan hingga ia diam terpaku sedemikian lama.

“Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku pada pintu surga” pintanya lagi yang tidak peduli terhadap janji sendiri tidak akan memohon selain dihadapkan ke surga,
“Tidakkah kamu telah menyatakan sekian kata janji dan sekian kalimat sumpah tidak hendak minta selain permintaanmu (yang sudah dikabulkan) itu?”
“Wahai Tuhanku, bukanlah aku orang tercelaka makhluk-Mu. Betul janjiku dan sumpahku tidak akan meminta yang lain, tetapi kemurahan-Mu menggugah aku berharap kepada rahmat-Mu, karena tidaklah berputus harapan dari rahmat-Mu selain orang-orang kafir. Maka aku memohon kepada-Mu untuk dekat dengan pintu surga, agar aku bukan orang tercelaka dari makhluk-Mu.
“Lalu adakah kamu hendak meminta yang lain, jika permintaanmu ini dikabulkan?”
“Wahai Tuhanku, tidak (hendak meminta yang lain), demi keluhuran-Mu aku tidak akan meminta selain permintaanku (dekat pintu surga) itu” jawaban orang ini yang dinyatakan dengan sejumlah sumpah dan janji.

Maka Tuhan mendekatkan orang ini pada pintu surga. Di sana ia bisa lebih leluasa memandangi keindahan dan kebahagiaan di surga yang sangat menawan, ia pun diam tertegun dan tercengang cukup lama.

“Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga”pintanya kembali tanpa peduli terhadap segebok sumpah dan janji sendiri, karena memohon kepada Tuhan lebih baik baginya daripada mempertahankan sumpah dan janji.
“Baik juga kamu, cucu Adam. Apakah alasanmu merusak sumpah dan janjimu sendiri? Bukankah kamu telah menyatakan sekian sumpah dan janji tidak akan meminta selain permintaanmu yang telah dikabulkan itu?”
“Wahai Tuhan, janganlah engkau menjadikan aku sebagai orang tercelaka dari makhluk-Mu”.

Tuhan tertawa (ridha dan berkenan melimpahkan rahmat) kepada lelaki yang selalu memohon rahmat-Nya, lalu Tuhan mengizinkan orang itu dimasukkan ke dalam surga. Di surga ia diminta untuk mengajukan harapan dan permintaan yang akan segera dipenuhi dan siap saji, maka ia mendaftar keinginan hingga kehabisan (tidak mampu lagi menyebutkan keinginannya),
“Tambahkan itu, yang ini belum” tutur Tuhan membimbing permintaan kenikmatan yang perlu diajukan lagi. Serampung permintaan dan keinginan maka Tuhan berfirman,
“Itu semua (yang diminta dan diharapkan kamu) untuk kamu, pula sepadan itu (berlipatan sepuluh)”.

Demikian keadaan orang yang dalam kehidupan di dunia ini tidak mengindahkan bentuk-bentuk wajib (muqashshir), maka lebih indah dan lebih mengagumkan daripada keadaan demikian bagi orang yang patuh kepada ajaran agama (muthi’).

Sabtu, 26 Mei 2012

Good Governance...


Masyarakat Madani
Dalam Pandangan Umat Muslim Indonesia

Konsep civil society (masyarakat madani) belakangan ini menarik minat banyak kalangan. Berbagai diskusi, seminar, dan talk show diselenggarakan untuk mengupas konsep tersebut. Gejala tersebut menandai bahwa masyarakat kita sedang mencari konsep alternatif untuk mewujudkan good governance, menggantikan bangunan Orde Baru yang telah melahirkan bad governance.

Menjadikan civil society sebagai konsep alternatif tampak pula dari gerakan oposisi kaum reformis terhadap rezim Orde Baru, yang diberi nama gerakan masyarakat madani (padanan Indaonesia untuk kata civil). Nama tersebut merupakan terjemahan populer dari istilah civil society, berbeda dengan makna civil society dalam diskursus ilmu sosial. Konsep civil society kadang juga diartikan sebagai masyarakat sipil. Pengartian tersebut didorong oleh keinginan untuk memberikan hak kepada kalangan sipil (nonmiliter) yang selama ini dikebiri hak-hak politik, sosial, dan ekonomi mereka akibat dari dominasi ABRI melalui penerapan dwifungsinya. Dengan begitu, civil society diartikan sebagai masyarakat dengan otoritas penuh untuk menyelenggarakan tugas eksekutif, legislatif, dan yudikatif tanpa pengaruh dan dominasi militer.

Mengartikan civil society dengan konotasi makna seperti dalam dua contoh tersebut bukan disebabkan kesulitan mengartikan konsep civil society, melainkan karena adanya kepentingan tertentu yang melatarbelakangai mereka yang sedang membahas konsep dimaksud. Kalangan pemikir muslim mengartikan civil society dengan cara memberi atribusi keislaman madani (attributive dari kata al-Madinah). Karena itu, istilah civil society dipadankan dengan masyarakat madani yang pada masyarakat ideal di (kota) Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam masyarakat tersebut, Nabi berhasil memberlakukan nilai-nilai keadilan, prinsip kesetaraan, penegakan hukum, jaminan kesejahteraan bagi semua warga serta perlindungan terhadap kelompok minoritas. Dengan begitu, kalangan pemikir muslim menganggap masyarakat (kota) Madinah sebagai prototype masyarakat ideal produk Islam yang bisa dipersandingkan dengan masyarakat ideal dalam konsep civil society. Mereka melakukan ’’pengislaman’’ konsep civil society untuk menunjukkan bahwa ajaran Islam sangat kaya dengan nilai dan etika, yang bila diimplementasikan akan terbentuk tatanan kehidupan yang ideal.

Anwar Ibrahim adalah intelektual muslim pertama yang mengintroduksi istilah masyarakat madani sebagai padanan civil society. Nurcholish Majid kemudian menggunakan istilah serupa. Dan, istilah tersebut sekarang sudah baku berkat tingginya sirkulasi penggunaan istilah tersebut. Seperti halnya pemikir muslim lain, kedua pemikir itu menggunaan projecting back theory dalam ’’mengislamkan’’ konsep civil society. Dalam menerapkan teori tersebut, mereka mengambil contoh dari data historis masa lalu Islam (masyarakat kota Madinah bentukan Nabi) yang secara kualitatif mereka anggap sejajar dengan masyarakat ideal hasil tuangan konsep civil society. Mereka melakukan penyetaraan untuk menunjukan bahwa dalam ajaran Islam terdapat potensi yang bisa dipakai untuk menciptakan sebuah pranata kehidupan sosial, politik, dan ekonomi sejalan dengan visi masyarakat modern.

Ada baiknya dibahas secara ringkas alasan yang mendorong kalangan intelektual muslim menggunakan projecting back theory itu. Dalam menerima paham-paham baru (neologism) yang muncul di era modern ini, intelektual muslim umumnya memiliki reservasi. Reservasi tersebut dilakukan karena mereka berada dalam situasi dilematis. Di satu sisi, konsep seperti civil society dibentuk berdasarkan prinsip moral dan tata nilai dari tradisi Eropa non-Islam.

Di sisi lain, mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menolaknya. Sebab, prinsip-prinsip dalam konsep tersebut telah menyatu secara organik dengan pranata kehidupan modern dan menjadi etika hidup masyarakatnya. Sebagai bagian dari masyarakat ekumenikal, intelektual muslim akan selalu memiliki reservasi terhadap paham-paham baru yang datang dari luar. Dalam sistem ekumenikal, masyarakat akan mencari jastifikasi agama sebelum menerima segala produk pemikiran manusia. Karena itu, reservasi tersebut baru bisa cair setelah konsep dimaksud dinyatakan valid karena, dalam proses pengujiannya, tidak bertentangan dengan landasan normatif (nass) dari sumber primer Islam (Alquran dan Hadis) atau dengan praktik generasi awal Islam.

Proses pengujian terhadap konsep baru umumnya dalam bentuk pencarian data sejarah masa lalu Islam, yang analog watak kualitatifnya dengan materi dalam konsep baru tersebut, seperti penganalogan masyarakat Madinah dengan civil society. Bila referensi pada data historis tidak ditemukan, maka dicari landasan tekstual (nass) sebagai alat jastifikasi pengganti. Paham nasionalisme yang sekarang sudah diterima sebagai paradigma politik oleh semua bangsa muslim semula juga mengalami proses pengujian melalui landasan tekstual. Muhammad ’Abduh, Hasan al-Banna’, dan Muhammad Rashid Rida, misalnya, menolak paham nasionalisme. Menurut mereka, Islam hanya mengakui kelompok sosial yang dibangun di atas dasar persamaan agama (Islam) saja sesuai dengan ketentuan normatif dalam prinsip al-ummah al-Islamiyah. Sedangkan paham nasionalisme, dalam pandangan mereka, menekankan prinsip kebersamaan plural, mulai etnis, linguistik, tradisi, cita-cita, hingga nilai-nilai kultural. Sedangkan Mustafa Kamil, Muhammad Iqbal, dan Muhammad Ali Jinnah menganggap bahwa nasionalisme tidak bertentangan dengan doktrin politik Islam. Sebab, di antara keduanya terdapat hubungan signifikan melalui prinsip normatif al-ukhuwwah al-Islamiyah. Nasionalisme, menurut mereka, merupakan instrumen bagi masyarakat muslim untuk mengaktualisasi cita-cita politik mereka sebagai komunitas beragama yang memerlukan negara (state) dan yang kedaulatannya dirampas oleh kekuatan kolonial.

Pada prinsipnya, kalangan muslim sangat reseptif terhadap produk pemikiran baru. Hal ini seperti tampak dari sikap Anwar Ibrahim dalam ’’mengislamkan’’ civil society serta penerima tiga pemikir tersebut pada konsep nasionalisme. Reseptivitas seperti itu disebabkan agama mereka (Islam) memiliki konsep moral universal sehingga proses akulturasi dengan paham-paham lain selalu mudah dilakukan. Untuk mengevaluasi reseptivitas Islam terhadap konsep civil society, perlu dibahas etika dalam ajaran Islam yang paralel dengan norma yang kemudian melandasi diskursus dalam penyelenggaraan konsep civil society. Pembahasan hanya akan menyayikan tema-tema pokok, seperti human rights, pluralism, dan religious tolerance. Tema seperti itu dipilih, mengingat pelanggaran terhadap human rights merupakan kasus laten yang terjadi di banyak negara muslim. Sedangkan pluralism dan religious tolerence merupakan tema aktual yang perlu disimak dalam konteks teoretisnya menurut Islam.